plutkumkmgianyar.com – Presiden Donald Trump dan Kongres Republik baru saja mengesahkan One Big Beautiful Bill Act (OBBB) yang disebut-sebut sebagai terobosan besar bagi ekonomi Amerika Serikat. Namun, alih-alih disambut meriah, undang-undang ini justru langsung menuai kritik dari berbagai media besar dan lembaga resmi seperti Congressional Budget Office (CBO).
CBO mengeluarkan analisis awal yang menyatakan bahwa OBBB akan menambah utang nasional hingga $3.9 triliun dalam 10 tahun ke depan. Prediksi ini langsung menjadi amunisi media seperti CNN, MSNBC, dan New York Times untuk menyebut RUU ini sebagai bencana fiskal.
Namun banyak pihak dalam lingkaran ekonomi Gedung Putih menilai perhitungan CBO terlalu statis dan gagal menangkap dampak nyata dari kebijakan pertumbuhan ekonomi. Mereka menegaskan, kebijakan potongan pajak, deregulasi, dan perlindungan industri justru mendorong lonjakan investasi dan peningkatan pendapatan negara.
Fakta Pertumbuhan Ekonomi Bertolak Belakang dari Prediksi
Jika merujuk pada efek dari reformasi pajak 2017 yang juga digagas oleh Trump, ekonomi AS pernah tumbuh 2.9% pada 2018, dan itu melampaui proyeksi CBO yang pesimistis. Saat itu, investasi bisnis naik signifikan, keuntungan luar negeri dipulangkan, dan kepercayaan konsumen melonjak.
Namun sayangnya, CBO tetap mempertahankan pendekatan yang sama dalam menilai OBBB. Mereka menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi hanya 1.8% per tahun, angka yang sudah digunakan selama lebih dari satu dekade dan dianggap tidak mencerminkan realita dari reformasi yang sedang dijalankan.
Kritik pun datang bukan hanya dari politisi, tapi juga ekonom yang mendukung kebijakan sisi penawaran. Mereka menilai analisis “dinamis” kedua CBO pun tetap bermasalah, karena menempatkan biaya di awal dan memperkirakan lonjakan suku bunga yang tidak realistis.
Manfaat OBBB yang Tidak Diperhitungkan Secara Adil
OBBB memiliki beberapa komponen yang diyakini dapat menurunkan defisit secara drastis. Selain pemotongan pajak permanen dan insentif bisnis, kebijakan tarif dari Presiden Trump diperkirakan menghasilkan $2.8 triliun pendapatan tambahan dalam 10 tahun.
Namun, CBO tampaknya mengabaikan dampak positif dari kebijakan tersebut. Mereka tidak memasukkan potensi pendapatan dari tarif maupun efek berantai dari investasi bisnis terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan konsumsi.
Padahal, logikanya jelas: insentif bisnis dan potongan pajak akan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang berarti pendapatan negara juga akan naik. Dengan pendapatan meningkat, otomatis beban utang bisa ditekan dan bunga pinjaman tidak perlu naik.
Isu Utang Nasional Jadi Alat Serangan Politik
Para pendukung OBBB meyakini bahwa apa yang dilakukan CBO lebih bersifat politis daripada akademis. Mereka menilai lembaga tersebut terjebak dalam paradigma Keynesian lama yang menolak berpindah ke model prediksi berbasis respons kebijakan aktual.
Lebih dari itu, CBO juga dianggap belum belajar dari kesalahan besar saat menilai reformasi pajak 2017. Waktu itu mereka juga meremehkan dampaknya, namun faktanya justru kebijakan itu menciptakan gelombang pertumbuhan dan pemulangan modal dalam skala besar.
Penutup: Debat Belum Usai
Dengan OBBB kini resmi menjadi undang-undang, perdebatan antara pemerintah, lembaga fiskal, dan media masih akan terus berlangsung. Di satu sisi, ada keyakinan kuat bahwa kebijakan ini mampu menciptakan surplus dan memperkuat ekonomi nasional. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa beban fiskal justru makin berat di masa depan.
Apakah OBBB akan menjadi tonggak sukses ekonomi jangka panjang, atau hanya janji politik belaka? Waktu yang akan menjawab, tapi bagi pemerintah saat ini, mereka percaya telah menapakkan langkah di jalur yang benar.
