JAKARTA, plutkumkmgianyar.com – Bank Indonesia (BI) kembali mengambil keputusan penting. BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate.
Angka tersebut tetap berada di level 6,00%. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG). Rapat tersebut berlangsung dua hari dan berakhir pada Kamis (14/12).
Langkah ini sejalan dengan prediksi para ekonom. Bank sentral dinilai perlu bersikap hati-hati. Pasalnya, ketidakpastian pasar keuangan global masih cukup tinggi.
BI juga menahan suku bunga lainnya. Suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 5,25%. Sementara itu, suku bunga Lending Facility bertahan di angka 6,75%.
Alasan Stabilitas Nilai Tukar
Gubernur Bank Indonesia menjelaskan alasan keputusan ini. Ia menyampaikannya dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat.
Menurutnya, ini adalah langkah pre-emptive dan forward looking. Tujuannya adalah memastikan inflasi tetap terkendali. BI menargetkan inflasi di angka 2,5±1% pada tahun 2025 dan 2026.
“Keputusan ini konsisten dengan kebijakan pro-stability. Kami fokus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Ini penting di tengah ketidakpastian global,” ujar Gubernur BI.
Ia juga menambahkan satu poin penting. Langkah ini merupakan antisipasi dini. Tujuannya memitigasi risiko kenaikan inflasi harga pangan.
BI juga menyoroti kondisi global. Ekonomi Amerika Serikat memang mulai melonggar. Namun, sentimen suku bunga tinggi (Higher for Longer) masih ada. Hal ini membayangi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Inflasi Aman, Ekonomi Solid
Kondisi ekonomi domestik terlihat baik. Indikator https://www.qualitycomforthvacr.com/about-us/ ekonomi Indonesia menunjukkan performa solid. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan lalu tercatat rendah. Angkanya berada di level 2,61% (yoy). Angka ini masih masuk dalam rentang target pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 juga diprediksi kuat. Permintaan domestik meningkat jelang akhir tahun. Realisasi investasi pun terus membaik.
Respon Pasar dan Analis
Kepala Ekonom Bank Mandiri Sekuritas, Andi Pratama, angkat bicara. Ia menilai langkah BI sudah tepat.
Menaikkan suku bunga saat ini berisiko. Hal itu bisa menekan daya beli masyarakat. Namun, menurunkan bunga juga berbahaya. Penurunan terlalu cepat bisa memicu pelemahan Rupiah.
“Pasar merespon positif keputusan ini. IHSG hari ini ditutup menguat 0,5%,” jelas Andi.
Rupiah juga bergerak stabil. Nilai tukar berada di kisaran Rp15.400 per Dolar AS. Ini menunjukkan kepercayaan pasar masih tinggi.
Ke depan, BI akan terus memperkuat kebijakan. Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas makroekonomi. BI juga berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
